Selasa, 22 Desember 2009

SEJARAH SIMBOL PITA MERAH AIDS



Pita Merah dikembangkan oleh Visual AIDS tahun 1991 melalui “The Ribbon Project”. Pita Merah dengan cepat menjadi symbol internasional dari kepedulian AIDS. Pengakuan yang paling banyak dikenal dari sImbol kepedulian AIDS adalah Pita Merah. Dimana ada banyak pita yang dibuat untuk event peringatan penyakit, pita kepedulian AIDS merupakan salah satu logonya. Tetap sebagai hari peringatan, symbol ini membantu untuk meningkatkan kepedulian untuk wabah HIV di seluruh dunia.

Frank C.Moore II (28 Mei 1953 – 21 April 2002) adalah seorang pelukis di New York, pemenang “Logan Medal of the Arts”, dan salah satu anggota artis artis Visual AIDS Caucus, salah satu organisasi yang bertanggung jawab pada “Ribbon Poject” , “A Day Without Art”, dan “A Night Without Light”. Lahir di Manhattan pada tahun 1953, Moore pindah dengan keluarganya ke Long Island, New York.Dia menghadiri Yale, dimana dia lulus “Summa cum lauds” tahun 1975, dan dia menuntut ilmu di Cite International des Arts di Paris dari tahun 1977 sampai 1979. Karyanya dia mulai di sebuah pertunjukkan pada tahun 1979, sebagai seorang penata set panggung untuk koreografi tarian modern Jim Self di Manhattan. Banyak berhutang budi pada Surrealisme, lukisan Moore menggambarkan impian dan pemandangan yang menakjubkan, sering kali yang berhubungan dengan tulisan (di sebuah gambar amplop Niagara Falls) atau referensi untuk AIDS. Berpikir politiknya sangat luas dan penuh dengan nuansa impian. Dia meninggal karena AIDS tanggal 21 April 2002 pada umur 48.

Pita Merah diciptakan oleh artis artis Visual AIDS Caucus. Di sebuah pertemuan tahun 1991, mereka bertemu untuk membuat sebuah symbol yang dapat membangkitkan rasa kasihan pada seseorang yang mengidap HIV/AIDS. Pada saat itu, penghargaan pita kuning diberikan pada prajurit Amerika yang terlibat dalam perang teluk. Insiprasi itulah yang membuat para artis untuk terlibat dan bergerak membuat symbol yang sama untuk HIV/AIDS.
Nama perkumpulan itu adalah “The Ribbon Project”. Saat perkumpulan mengenalakan symbol itu, mereka mempunyai visi untuk menciptakan sebuah symbol yang mengikuti 3 aturan.
1. Hasilnya akan ditujukan pada ke artis artis Visual AIDS Caucus, tidak pada perseorangan.
2. Hasil dari produk tidak dipatenkan, jadi setiap orang bisa mengakses gambar ini.
3. Produk ini akan digunakan untuk menumbuhkan kepedulian AIDS, tidak untuk tujuan komersil.

Produk terakhir dari Pita Merah Peduli AIDS masih digunakan sampai sekarang. Warna merah dipilih karena ide dari darah dan semangat. Proyek itu diluncurkan tahun 1991 pada waktu Tony Awards. Di tengah pertunjukkan, pembawa acara dan nominator disuruh untuk mengenakan pita, dan banyak sekali artis yang ikut serta. Selama Tony Awards berlangsung, Jeremy Irons aktor dari Inggris menjadi orang pertama yang terlihat di televisi mengenakan Pita Merah Peduli AIDS.

Simbol Pita Merah digunakan secara internasional untuk melambangkan perang terhadap AIDS.Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember diperingati untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.Konsep ini digagas pada Pertemuan Menteri Kesehatan Sedunia mengenai Program-program untuk Pencegahan AIDS pada tahun 1988. Sejak saat itu, ia mulai diperingati oleh pihak pemerintah, organisasi internasional dan yayasan amal di seluruh dunia

Dibentuk tahun 1988, Visual AIDS adalah sebuah perkumpulan artis yang mencari penyatuan dalam komunitas seniman dalam melawan HIV/AIDS. Proyek asli dari perkumpulan ini adalah “A Day Without Art”, adalah digunakan untuk menunjukkan pada dunia apa yang terjadi jika sebuah seni tidak muncul karena wabah AIDS. Perkumpulan itu melanjutkan untuk mempromosikan peduli AIDS melalui jumlah tingginya peminat di dalam komunitas seniman.

TENTANG VISUAL AIDS



Visual AIDS adalah salah satu pemrakarsa nasional pertama kali tentang mendokumentasikan pengaruh gejala AIDS di dalam komunitas artis. Bersamaan dengan komunitas seni dan AIDS melalui pembaharuan proyek nasional “Day Without Art”, “Night Without Light”, dan “The Ribbon Proyek”.
“Day Without Art” telah berkembang sejak ditetapkan pada tahun 1989 untuk menjadi hari dengan seni. Proyek kolaborasi lebih dari 6.000 komunitas seniman di seluruh dunia yang mana mendemonstrasikan kekuatan dari seni untuk membangkitkan kepedulian tentang wabah AIDS. Untuk satu hari, 1 Desember atau hari AIDS sedunia, mendorong komunitas seniman untuk mengingat mereka yang telah meninggal karena AIDS dan merasakan sakitnya dan bersama sama berbagi dengan berbagai macam orang di dalam perayaan.
“The Ribbon Project” diciptakan pada tahun 1991 oleh artis – artis Visual AIDS Caucus, sebuah kelompok artis yang berkeinginan untuk menciptakan simbol visual untuk memperlihatkan perasaan orang – orang yang hidup dengan AIDS.

Sebagai satu satunya organisasi seni, Visual AIDS adalah sebuah sumber untuk program seni mempromosikan kepedulian AIDS dan pencegahan HIV. Saat proyek seni tumbuh dengan pesat, mereka semua berdasar pada pengetahuan yang dimana seni visual menawarkan kesempatan untuk membicarakan wabah AIDS dan semua yang berkaitan dengan AIDS. Artis yang mengidap positif HIV bekerja di Frank Moore Archive Project, Visual AIDS memelihara tempat sejarah mereka dan mengungkapkan pengaruh AIDS di dalam seni kontemporer.

Setiap tahun kami telah memproduksi dan mengirimkan 20.000, baru, gratis, peduli AIDS, kumpulan artis yang bekerja di seluruh proyek kami. Pameran dikembangkan dari kolaborasi Visual AIDS dengan pertunjukkan tempat seni. Visual AIDS mengadakan dialog umum dan pelajar tentang AIDS dan seni visual. Visual AIDS telah sukes memproduksi berbagai macam proyek “Open Call” yang dimasukkan dalam pameran, katalog, dan bahan yang tercetak. Visual AIDS menerbitkan katalog dan karya ilmiah artis – artis. Visual AIDS menyediakan tenaga guru dan kolaborasi kerjasama dengan pihak lokal dan sekolah internasional.

Program terbesar kita (Frank Moore Archive Project), adalah perpustakaan tempat umum, pameran, acara publikasi, dan pelayanan ke artis dan pemakaman mereka. Sejak ditemukan pada tahun 1994, arsip – arsip dokumentasi dibuat gratis, dilanjutkan dengan dokumentasi foto dari seniman ke semua artis profesional dengan HIV dan tanah milik artis yang meninggal karena AIDS. Visual AIDS menawarkan bantuan untuk persediaan artis dan fasilitas keadaan darurat yang terbatas.

Misi dan tujuan dibuat pada tahun 1988 oleh artis profesional yang merespons efek dari AIDS di dalam komunitas seni dan sebagai cara dari organisasi artis – artis, intitusi seni, dan para pelaku seni bergerak maju, Visual AIDS telah berkembang menjadi sebuah seni.
Organisasi ini memiliki 2 misi tujuan :
1. Melalui “Frank Moore Archive Project”, perpustakaan terbesar yang berisi pekerjaan oleh artis yang hidup dengan AIDS dan pemakaman artis yang meninggal karena AIDS, Visual AIDS mengabadikan kontribusi artis dengan HIV dengan mendukung kemampuan mereka untuk melanjutkan pembuatan seni dan memajukan masa depan mereka.
2. Berkerjasama dengan museum, galeri, artis, sekolah, dan organisasi AIDS, Visual AIDS menghasilkan pameran, publikasi, dan acara menggunakan seni visual untuk menyebarkan pesan “AIDS IS NOT OVER”

SEJARAH BERDIRINYA ORGANISASI YANG MENANGANI AIDS



Hari AIDS Sedunia pertama kali dicetuskan pada Agustus 1987 oleh James W. Bunn dan Thomas Netter, dua pejabat informasi masyarakat untuk Program AIDS Global di Organisasi Kesehatan Sedunia di Geneva, Swiss. Bunn dan Netter menyampaikan ide mereka kepada Dr. Jonathan Mann, Direktur Pgoram AIDS Global (kini dikenal sebagai UNAIDS). Dr. Mann menyukai konsepnya, menyetujuinya, dan sepakat dengan rekomendasi bahwa peringatan pertama Hari AIDS Sedunia akan diselenggarakan pada 1 Desember 1988.

Bunn menyarankan tanggal 1 Desember untuk memastikan liputan oleh media berita barat, sesuatu yang diyakininya sangat penting untuk keberhasilan Hari AIDS Sedunia. Ia merasa bahwa karena 1988 adalah tahun pemilihan umum di AS, penerbitan media akan kelelahan dengan liputan pasca-pemilu mereka dan bersemangat untuk mencari cerita baru untuk mereka liput. Bunn dan Netter merasa bahwa 1 Desember cukup lama setelah pemilu dan cukup dekat dengan libur Natal sehingga, pada dasarnya, tanggal itu adalah tanggal mati dalam kalender berita dan dengan demikian waktu yang tepat untuk Hari AIDS Sedunia.
Bunn, yang sebelumnya bekerja sebagai reporter yang meliput epidemi ini untuk PIX-TV di San Francisco, bersama-sama dengan produsennya, Nansy Saslow, juga memikirkan dan memulai "AIDS Lifeline" ("Tali Nyawa AIDS") - sebuah kampanye penyadaran masyarakat dan pendidikan kesehatan yang disindikasikan ke berbagai stasiun TV di AS. "AIDS Lifeline" memperoleh Penghargaan Peabody, sebuah Emmy lokal, dan Emmy Nasional pertama yang pernah diberikan kepada sebuah stasiun lokal di AS.
Pada 18 Juni 1986, sebuah proyek "AIDS Lifeline" memperoleh penghargaan "Presidential Citation for Private Sector Initiatives", yang diserahkan oleh Presiden Ronald Reagan. Bunn kemudian diminta oleh Dr. Mann, atas nama pemerintah AS, untuk mengambil cuti dua tahun dari tugas-tugas pelaporannya untuk bergabung dengan Dr. Mann (seorang epidemolog untuk Pusat Pengendalian Penyakit) dan membantu untuk menciptakan Program AIDS Global. Bunn menerimanya dan diangkat sebagai Petugas Informasi Umum pertama untuk Pgoram AIDS Global. Bersama-sama dengan Netter, ia menciptakan, merancang, dan mengimplementasikan peringatan Hari AIDS Sednia pertama - kini inisiatif kesadaran dan pencegahan penyakit yang paling lama berlangsung dalam jenisnya dalam sejarah kesehatan masyarakat.)
Program Bersama PBB untuk HIV/AIDS (UNAIDS) mulai bekerja pada 1996, dan mengambil alih perencanaan dan promosi Hari AIDS Sedunia. Bukannya memusatkan perhatian pada satu hari saja, UNAIDS menciptakan Kampanye AIDS Sedunia pada 1997 untuk melakukan komunikasi, pencegahan dan pendidikan sepanjang tahun. Pada dua tahun pertama, tema Hari AIDS Sedunia dipusatkan pada anak-anak dan orang muda. Tema-tema ini dikiritk tajam saat itu karena mengabaikan kenyataan bahwa orang dari usia berapapun dapat terinfeksi HIV dan menderita AIDS. Tetapi tema ini mengarahkan perhatian kepada epidemi HIV/AIDS, menolong mengangkat stigma sekitar penyakit ini, dan membantu meningkatkan pengakuan akan masalahnya sebagai sebuah penyakit keluarga. Pada 2004, Kampanye AIDS Sedunia menjadi organisasi independen.

Sejak dibentuknya hingga 2004, UNAIDS memimpin kampanye Hari AIDS Sedunia, memilih tema-tema tahunan melalui konsultasi dengan organisasi-organisasi kesehatan global lainnya.
Sejak 2008, tema Hari AIDS Sedunia dipilih oleh Komite Pengarah Global Kampanye Hari AIDS Sedunia setelah melalui konsultasi yang luas dengan banyak pihak, organisasi dan lembaga-lembaga pemerintah yang terlibat dalam pencegahan dan perawatan korban HIV/AIDS. Untuk setiap Hari AIDS Sedunia dari 2005 hingga 2010, temanya adalah "Hentikan AIDS, Jaga Janjinya", dengan sebuah sub-tema tahunan. Tema payung ini dirancang untuk mendorong para pemimpin politik untuk memegang komitmen mereka untuk menghasilkan akses sedunia kepada pencegahan, perawatan, pemeliharaan, dan dukungan terhadap penyakit dan para korban HIV/AIDS pada tahun 2010. Tema ini tidaklah spesifik bagi Hari ADIS Sedunia, melaiinkan digunakan sepanjang tahun dalam upaya-upaya Kampanye AIDS Sedunia untuk menyoroti kesadaran HIV/AIDS dalam konteks peristiwa-peristiwa global lainnya termasuk Pertemuan Puncak G8. Kampanye ADIS Sedunia juga menyelenggarakan kampanye-kampanye di masing-masing negara di seluruh dunia, seperti Kampanye Mahasiswa Menghentikan AIDS, sebuah kampanye untuk menularkan kesadaran kepada orang-orang muda di seluruh Britania Raya.

Tema Hari AIDS Sedunia 1988 – sekarang
1988 : Komunikasi
1989 : Pemuda
1990 : Wanita dan AIDS
1991 : Berbagi Tantangan
1992 : Komitmen Masyarakat
1993 : Saatnya Beraksi
1994 : AIDS dan Keluarga
1995 : Hak Bersama, Tanggung Jawab Bersama
1996 : Satu Dunia, Satu Harapan
1997 : Anak-anak yang Hidup Dengan AIDS
1998 : Kekuatan Menuju Perubahan: Kampanye AIDS Sedunia Bersama Orang Muda
1999 : Dengarkan, Pelajari, Hidupi: Kampanye AIDS Sedunia dengan Anak-anak dan Orang Muda
2000 : AIDS: Laki-laki Menciptakan Perbedaan
2001 : Aku Peduli. Bagaimana dengan Anda?
2002 : Stigma dan Diskriminasi
2003 : Stigma dan Diskriminasi
2004 : Perempuan, Gadis, HIV dan AIDS
2005 : Hentikan AIDS. Jaga Janjinya
2006 : Hentikan AIDS. Jaga Janjinya - Akuntabilitas
2007 : Hentikan AIDS. Jaga Janjinya - Kepemimpinan
2008 : Hentikan AIDS. Jaga Janjinya - Pimpin - Berdayakan - Berikan
2009 : Hentikan AIDS. Jaga Janjinya - Akses Universal dan Hak Asasi Manusia

Selasa, 01 Desember 2009

Sejarah seluk beluk Natal 25 Desember


Natal (dari bahasa Portugis yang berarti "kelahiran") adalah hari raya bagi umat Kristen. Dalam hari ini yang jatuh pada tanggal 25 Desember, kelahiran Yesus Kristus diperingati. Meski para pakar dewasa ini sepakat bahwa Yesus kemungkinan besar sebenarnya tidak lahir pada hari ini, hari kelahirannya tetap dirayakan pada tanggal 25 Desember. Hal ini dibuktikan dengan cerita adanya para gembala yang sedang menggembalakan hewan peliharaan mereka. Pada bulan Desember - Januari, di daerah Timur Tengah, justru mengalami musim dingin, sehingga sangat tidak masuk akal untuk menggembalakan hewan pada waktu-waktu tersebut.

Dalam tradisi barat, peringatan Natal juga mengandung aspek non-agamawi. Sebagian besar tradisi Natal berasal dari tradisi pra-Kristen barat yang diadopsi ke dalam tradisi Kristiani. Selain itu, peringatan Natal dalam tradisi barat (yang kian mendunia) ditandai dengan bertukar hadiah antara teman dan anggota keluarga serta datangnya Santa Claus atau Sinterklas. Peringatan hari kelahiran Yesus tidak pernah menjadi perintah Kristus untuk dilakukan. Cerita dari Perjanjian Baru tidak pernah menyebutkan adanya perayaan hari kelahiran Yesus dilakukan oleh gereja awal.

Sudah bisa dipastikan tanggal 25 Desember bukanlah tanggal hari kelahiran Yesus. Pendapat ini diperkuat berdasarkan kenyataan bahwa pada malam tersebut para gembala masih menjaga dombanya dipadang rumput. (Lukas 2:8). Pada bulan Desember tidak mungkin para gembala masih bisa menjaga domba-dombanya di padang rumput sebab musim dingin pada saat tersebut telah tiba jadi sudah tidak ada rumput yang tumbuh lagi. Dalam tradisi Romawi pra-Kristen, peringatan bagi dewa pertanian Saturnus jatuh pada suatu pekan di bulan Desember dengan puncak peringatannya pada hari titik balik musim dingin (winter solstice) yang jatuh pada tanggal 25 Desember dalam kalender Julian. Peringatan yang disebut Saturnalia tersebut merupakan tradisi sosial utama bagi bangsa Romawi. Agar orang-orang Romawi dapat menganut agama Kristen tanpa meninggalkan tradisi mereka sendiri, Paus Julius I memutuskan pada tahun 350 bahwa kelahiran Yesus diperingati pada tanggal yang sama.

Pendapat lain mengatakan bahwa hari Natal ditetapkan jatuh pada tanggal 25 Desember pada abad ke 4 oleh kaisar Kristen pertama Romawi, Konstantin I. Tanggal 25 Desember tersebut dipilih sebagai Natal karena bertepatan dengan kelahiran Dewa Matahari (Natalis Solis Invicti atau Sol Invictus atau Saturnalia) yang disembah oleh bangsa Romawi. Perayaan Saturnalia sendiri dilakukan oleh orang Romawi kuno untuk memohon agar Matahari kembali kepada terangnya yang hangat(Posisi bumi pada bulan Desember menjauh dari matahari, seolah-olah mataharilah yang menjauh dari bumi).

Oleh karena itu, ada dua aliran Kristen yang tidak merayakan tradisi Natal, yaitu aliran Advent dan Saksi-Saksi Yehuwa. Berkenaan Saksi-Saksi Yehuwa, mereka mulai tidak merayakan Natal sejak tahun 1926 ketika mereka mengetahui bahwa Natal mempunyai asal-usul Kafir, menurut buku Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah, 1993, halaman 198-200. Meskipun kapan hari natal jatuh masih menjadi perdebatan, agama Kristen mainstream sepakat untuk menetapkan hari natal jatuh setiap tanggal 25 Desember dalam kalender gregorian ini didasari atas kesadaran bahwa penetapan hari raya liturgis lain seperti paskah dan jumat agung tidak didapat dengan pendekatan tanggal pasti namun hanya berupa penyelenggaraan kembali acara-acara tersebut dalam satu tahun liturgi, dimana yang terpenting bukanlah ketepatan tanggalnya namun essensi atau inti dari setiap peringatan tersebut untuk dapat diwujudkan dari hari ke hari.

Tahun kalender Masehi diciptakan pada abad ke-6 oleh seorang biarawan yang bernama Dionysius Exignus. Tahun Masehi yang kita gunakan sekarang ini disebut juga anno Domini (Tahun Tuhan). Bagaimana ia bisa mengetahui bahwa Tuhan Yesus dilahirkan pada tahun 1 SM? Ia mengambil data dari catatan sejarah yang menyatakan bahwa pada tahun 754 kalender Romawi itu adalah tahun ke 15 dari pemerintahan Kaisar Tiberius seperti yang tercantum di Lukas 3:1-2. Data inilah yang dijadikan patokan olehnya untuk mengawali tahun 1 SM.
Di samping itu ia juga mengambil data dari Lukas 2:1-2 yang menyatakan bahwa Kirenius (Gubenur dari Siria) pertama kali menjalankan program sensus.
Walaupun demikian masih juga orang yang meragukannya, sebab menurut sejarahwan Yahudi yang bernama Flavius Josephus, raja Herodes meninggal dunia pada tahun 4 sebelum Masehi sehingga konsekuensinya tanggal lahir Yesus harus dimundurkan sebanyak empat tahun. Tapi teori ini pun tidak benar, sebab ia menganalisa tahun tersebut berdasaran adanya gerhana bulan pada tahun saat Herodes meninggal dunia yang terjadi di Yerusalem pada tanggal 13 Maret tahun 4 sebelum Masehi, tetapi para ilmuwan sekarang telah membuktikan bahwa gerhana bulan tersebut terjadi bukan pada tanggal tersebut diatas melainkan pada tanggal 9 Januari tahun 1 SM.

Nah apapun perdebatan tentang bagaimana Natal itu tanggal 25 Desember, sekarang terserah pada semuanya. Yang terpenting disini adalah bukan tanggalnya tapi melainkan bahwa kita sebagai manusia patut mengucapkan terima kasih pada Tuhan karena telah dilahirkan di dunia ini. Dan Yesus sendiri bukan manusia abadi yang hidup terus di dunia, dimana ada kelahiran di situ ada kematian. Jadi intinya Selamat Hari Natal semuanya, semoga Tuhan memberkati kalian semua.
(sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/natal)

Ada yang tahu tentang kisah Sinterklas?


Kalau berbicara tentang Sinterklas pasti tak pernah lepas dari baju merah, gendut dan suka memberi hadiah. Nah mungkin sebagian dari kalian tidak tahu tentang sejarah dari Sinterklas, sekarang kita akan mengintip sebentar sejarahnya. Sinterklas (dalam bahasa lain juga dikenal dengan nama Santa Klaus, Santo Nikolas, Santo Nick, Bapak Natal, Kris Kringle, Santy, atau Santa) adalah tokoh dalam berbagai budaya yang menceritakan tentang seorang yang memberikan hadiah kepada anak-anak, khususnya pada Hari Natal. Santo Nikolas dari Myra adalah inspirasi utama untuk figur orang Kristen tentang Sinterklas. Dia adalah uskup Myra di Lycia pada abad ke 4. Nikolas terkenal untuk kebaikannya memberi hadiah kepada orang miskin. Dia sangat religius dari awal umurnya dan mencurahkan hidupnya untuk Kristen. Di Eropa (lebih tepatnya di Belanda, Belgia, Austria dan Jerman) dia digambarkan sebagai uskup yang berjanggut dengan jubah resmi. Relik dari Santo Nikolas dikirim ke Bari di Italia selatan oleh beberapa pedagang Italia; sebuah basilika dibangun tahun 1087 untuk memberi mereka rumah dan menjadi daerah ziarah.
Santo Nikolas menjadi dirujuk oleh orang banyak sebagai Santo pelindung bagi pelaut, pedagang, pemanah, anak-anak, tuna susila, ahli obat, pengacara, pegadaian, tahanan, kota Amsterdam dan Rusia. Di Yunani, Santo Nikolas adalah pengganti untuk Santo Basil (Agios Vasilis dalam Bahasa Yunani), seorang uskup pada abad ke 4 dari Caesarea. Bagian utara Belanda dan beberapa desa di Flanders, Belgia, merayakan seorang figur yang agak mirip, Sint-Maarten (Santo Martin dari Tours).

Gambaran Pra-Modern tentang Sinterklas yang suka memberi hadiah dari sejarah gereja dan cerita rakyat bergabung dengan karakter Inggris Father Christmas untuk membuat karakter yang diketahui oleh orang Inggris dan Amerika Serikat sebagai Santa Claus. Father Christmas pada abad ke 17 di Inggris, dan dia masih ada pada zaman itu, menggambarkannya sebagai orang yang berjanggut memakai baju yang panjang, hijau, jubah berbulu. Dia melambangkan jiwa dari semangat natal, dan digambarkan dalam "Hantu Hadiah Natal" dalam novel A Christmas Carol oleh Charles Dickens. Penggambaran cerita rakyat tentang Father Christmas menaiki seekor kambing. Barangkali, ini adalah versi evolusi dari Tomte Swedia. Di negara lain, gambaran Santo Nikolas juga dicampur dengan cerita rakyat lokal. Sebagai contoh hal yang masih bertahan, penggambaran pagan, di daerah Nordic, ada seekor Kambing Yule (Bahasa Swedia julbock, Bahasa Norwegia "julebukk", Bahasa Denmark "julebuk" Bahasa Finlandia joulupukki), sebuah figur yang mengejutkan dengan tanduk yang mengantar hadiah pada malam natal. Kambing jerami masih menjadi dekorasi natal di Swedia, Norwegia dan Finlandia. Pada tahun 1840, peternakan gnome dalam cerita rakyat Nordic memulai mengantarkan hadiah natal di Denmark, tapi disebut "Julenisse", berpakaian baju abu-abu dan topi merah. Pada akhir abad ke 19, tradisi ini telah menyebar ke Norwegia dan Swedia (dimana "nisse" disebut Tomte), menggantikan Kambing Yule. Hal yang sama terjadi di Finlandia, tapi disana lebih banyak figur manusia yang menggunakan nama kambing Yule.
(sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Santa_Claus)